Oleh: sulur | 17 Juli 2013

EVALUASI PENGGUNAAN SOFTWARE ”SIMPUS” KOTA SEMARANG SEBAGAI SISTEM INFORMASI REKAM MEDIS GIGI DAN IDENTIFIKASI MANUSIA

Oleh : Sulur Joyo Sukendro,  Hanif Pandu Suhito, Muhammad Sholihuddin

Dalam penyelenggaraan praktik kedokteran, setiap dokter dan dokter gigi wajib mengacu pada standar, pedoman dan prosedur  yang berlaku sehingga masyarakat mendapat pelayanan medis secara profesional dan aman. Sebagai salah satu fungsi pengaturan dalam Undang-Undang Praktik Kedokteran yang dimaksud adalah pengaturan tentang rekam medis. Pengelolaan  rekam  medis yang baik, benar dan sesuai standar berdasarkan Peraturan  Menteri Kesehatan No. 269 Tahun 2008 tentang rekam  medis, telah menjadi perhatian utama bagi pengelola sarana pelayanan kesehatan di Indonesia dalam kurun dasawarsa terakhir ini. Rekam medis memiliki nilai tinggi untuk kepentingan administratif, hukum, financial, penelitian/riset, pendidikan, dan dokumentasi. Dengan demikian aspek ketersediaan dan aspek kelengkapan pengisiannya harus diperhatikan mengingat rekam medis mempunyai manfaat utama sebagai dasar dan petunjuk untuk merencanakan dan  menganalisa penyakit serta merencanakan pengobatan, perawatan seorang pasien.

Pentingnya pengelolaan data rekam medis pasien gigi yang baik dan sesuai standar sangat diinginkan oleh kalangan medis sebab telah terbukti bahwa gigi telah mampu menjadi alat identifikasi manusia dalam berbagai kasus, terutama kasus musibah yang menyebabkan kematian yang terjadi tidak jarang terdapat korban tidak dikenal dan karenanya perlu diidentifikasi. Hasil pengamatan pada Software “SIMPUS” Kota Semarang, terdapat input identitas pasien secara sederhana, data diagnosis pasien untuk BP umum dan belum terdapat sistem untuk pencatatan dan pengelolaan data medis gigi antara lain input penulisan elemen gigi serta pemetaan gigi/odontogram. Dengan demikian sistem yang ada saat ini masih terdapat kekurangan yaitu:

  1. Informasi yang dihasilkan SIMPUS belum sesuai dengan standar rekam medis gigi.
  2. Sistem pencatatan dalam SIMPUS belum mampu mengarahkan dalam pengisian data medis gigi secara terstruktur.
  3. Sistem yang sedang berjalan tidak bisa digunakan untuk sarana bantu identifikasi manusia kaitannya dengan pendeteksian melalui gigi, termasuk untuk kejadian musibah.

Menurut Badan Kesbanglinmas Kota Semarang dan data Pusat Penanggulangan Krisis Kementrian Kesehatan RI, dari bulan Januari 2009 sampai dengan bulan Februari 2010, di Kota Semarang telah terjadi 24 kali musibah bencana, baik berupa tanah longsor maupun banjir bandang. Akibat musibah bencana tersebut sebanyak 5 orang meninggal dunia.[6] Sedangkan berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, selama kurun waktu antara tahun 2005 sampai dengan 2009, kematian akibat kecelakaan lalu lintas menempati peringkat lima tertinggi. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pihak Kota Semarang telah membentuk unit-unit pendukung pelaksana penanganan krisis / management crisis unit¸ yang melibatkan pihak pemerintah daerah, TNI, Kepolisian, PMI, dan organisasi masyarakat.

Sebagai salah satu divisi di tubuh Kepolisian Republik Indonesia, Disaster Victim Identification (DVI) memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi para korban saat terjadinya musibah. Menurut hasil wawancara dengan anggota Biddokkes Polda Jateng, sampai bulan Maret 2011 terdapat 1.043 kasus yang ditangani oleh Biddokkes Polda Jateng dalam upaya mengidenfikasi korban/pelaku melalui identifikasi visual dan DNA, sedangkan metode pemeriksaan melalui odontologi gigi, mengalami kesulitan karena sulitnya didapat data pendukung antemortem sebagai pembanding. Sehingga optimalisasi berbagai sarana pendukung baik yang melibatkan peran lintas organisasi dengan tujuan untuk membantu pelaksanaan identifikasi manusia khususnya bagi warga Kota Semarang, sangat dibutuhkan.

Berdasarkan kondisi tersebut maka pada tahun 2010 telah dilakukan kajian awal pembuatan prototipe Sistem Informasi Rekam Medis Gigi dengan kemampuan Sistem Pendukung Keputusan dalam hal Identifikasi Manusia  yang diuji cobakan di Klinik Swadana Jurusan Kesehatan Gigi Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang. Pada tahun 2011 dilakukan implementasi berupa penggabungan pada Software “SIMPUS” Kota Semarang, dilanjutkan dengan sosialisasi pada pengguna yaitu dokter gigi dan perawat gigi di Kota Semarang. Tahapan berikutnya dilakukan pembaharuan/update pada seluruh Software “SIMPUS” Kota Semarang di 37 Puskesmas yang tersebar  secara geografis di 16 kecamatan. Setelah diterapkan kurang lebih selama 12 bulan maka perlu dilakukan kajian penggunaan Software “SIMPUS” Kota Semarang sebagai Sistem Informasi Rekam Medis Gigi dan Identifikasi Manusia.

Bila Anda tertarik silahkan membaca artikel di link berikut ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: